Cerpen Bahasa Indonesia
Sehelai Kain Air Mata
Bagaimana rasanya saat kau dihadapkan pada sebuah pilihan yang baik tapi keraguan selalu menggerus jalan pikiranmu? Bagaimana rasanya bila kau merasa tidaklah pantas pilihan itu untukmu? Dan saat kau bertanya pada hati kecilmu, ia diam seribu bahasa.
Saat itu liburan Ramadhan akan segera dilaksanakan dan aku bersama teman-temanku sedang menunggu surat dari Tata Usaha. Isinya adalah kapan kami libur, kapan kami masuk dan kapan Ujian Tengah Semester berlangsung.
“Ariz dimana surat?” Aku berkata padanya saat Ariz baru keluar dari ruang Tata Usaha. Aku melihat ke bawah, Ariz telah memegang lembaran surat yang siap ia edarkan untuk teman-teman sekelas kami. “Bisa liat nggak? Hehehe.” Sebetulnya sudah biasa ya Ariz aneh seperti itu. Keunikan teman sekelas.
“Hiii… UTS.” Aku bergidik. Ujian Tengah Semester ini diadakan saat bulan Ramadhan. Agaknya semua siswa pasti keberatan, tapi ini tuntutan diknas.
Aku membuka surat edaran itu dan membacanya pelan. Pembukaan surat itu tentang Ujian Tengah Semester akan diadakan pada tanggal berapa dan sebagainya. Namun ada satu keterangan yang membuatku sangat tertarik.
“…siswa SMAN 5 Bandung akan libur selama seminggu dan masuk pada tanggal 27 untuk mengikuti sanlat (pesantren kilat)…”
“Aduh! Kok ada sanlat? Ah menyebalkan.” Temanku menggerutu.
Dan sebuah kalimat juga yang membuatku fokus pada hal itu. “… selama bulan Ramadhan, seluruh siswi diwajibkan menggunakan jilbab…”
“Aduh dijilbab juga lagi! Banyak maunya banget!” Ucap salah satu temanku. Aku melamun. Wow.. Sepertinya asyik juga dikerudung saat Ramadhan… Kan bisa dapat berkah :), pikirku sambil tersenyum simpul.
“Ya sudahlah. Pakai saja biar makin cantik! Taubat juga! Haha.” Aku tertawa.
Lalu kami beranjak dari tempat itu dan berjalan ke masjid karena adzan telah berkumandang. Kami melaksanakan Shalat Dzuhur munfarid1, karena pertimbangan bisa lama kalau mengikuti orang yang melakukan shalat berjamaah.
Sungguh, pemikiranku yang seperti ini sangatlah bodoh… Betapa pikiranku betul-betul terkontrol setan dan aku tidak memiliki kendali pada ini semua.
Setelah shalat, aku duduk dan melihat sekelilingku. Masjid SMA 3 dan 5 ini sepi. Mungkin karena sekarang baru bel pulang sekolah. Teman-temanku telah meninggalkanku duluan dan duduk-duduk di tangga untuk memakai sepatu. Ya, aku memang disindir-sindir apabila shalat lama sekali.
Masalahnya adalah… Untuk shalat lama pun, aku masih belum sekhusyuk Imam Masjidil Haram. Bagaimana yang shalatnya cepat? Apakah mereka khusyuk? Entahlah.
Baru saja aku akan mengambil tasku, aku bertemu dengan seorang muslimah. Jilbabnya lebar. Terlalu konservatif, menurutku. Pandangan yang sangat subjektif karena pada saat itu… Aku masih belum mengerti bagaimana berkerudung untuk muslimah yang baik dan benar dan yang diatur oleh Allah.
Ia tersenyum padaku. Aku tertegun. Wajahnya begitu sejuk saat senyuman itu ia lemparkan padaku. Aku membalasnya. Kemudian, ia duduk dan bersender pada dinding masjid. Aku masih memperhatikan dirinya diam-diam sambil melipat mukena masjid.
Ukhti2 itu mengeluarkan Mushaf3 dan membacanya pelan. Mungkin ia takut mengganggu karena ada orang yang sedang shalat. Dengungan suara firman Allah itu ia dengungkan terus. Aku menunduk. Malu.
Aku jarang memegang Mushaf. Kesibukkan yang bukan karena mengurusi hal berguna melainkan aku duduk di kantin sambil makan dan berbincang-bincang hingga sore tidak terasa dan sampai rumah waktu Maghrib. Lalu aku belajar dan tidur. Tidak ada waktu untuk membacanya. Sangat memalukan.
2 : Saudara perempuan 3 : Kitab Al-Qur’an 1 : Shalat yang sendiri atau tidak berjamaah
“Lama!” Temanku berkata sambil menggerutu
“Sabar dong… Tadi aku sedang shalat.” Aku berkata sambil tertawa. Kupakai sepatuku agak tergesa-gesa. “Hmm… Semuanya mau makan dulu?”
“Mau makan manda… Lapar.” Aku menatap mereka. Masih pada tatapan kesal padaku. Ya Allah… Kok mereka berlaku seperti itu? Memang salahku karena terlalu banyak merenung di mesjid tadi, tapi mengapa mengurusi urusan duniawi dulu ketimbang akhirat nanti?
Aku pun mengikuti mereka untuk mencari makan. Aku mengecek uangku tinggal beberapa lagi. Teman-temanku berjalan ke kantin SMA Negeri 3 dan memesan baso malang. Mengingat uangku yang tak seberapa aku meminta izin untuk pulang dan juga pertimbangan aku tidak menyukai aura mereka saat ini.
Sepanjang perjalanan menuju tempat aku akan naik angkutan umum, aku masih memikirkan ukhti tadi itu… Betapa ia selalu menyempatkan waktunya untuk bersenandung firman Allah itu dan mensyukuri atas pancainderanya yang selalu menyentuh hal yang baik.
Senyumannya pun, senyum seorang muslimah yang takut pada laknat Allah dan yang selalu mengikuti sunnah Rasul. Ia tidak akan mungkin memarahiku karena sembahyangku yang agak lama.
Dulu saat SMP, temanku pernah berkata padaku. “Orang yang berjilbab itu, wajahnya bercahaya”
Memang terbukti. Apabila aku melihat muslimah-muslimah yang melangkah dengan anggun dan pandangan yang selalu terjaga, mereka wajahnya sangat bercahaya. Tidak ada wajah bersungut-sungut dan tidak ada gerutu dari bibir mereka. Perkataan mereka selalu dijaga agar tidak dimurkai Allah.
4 : Sesuai dengan syariat Islam
Lalu, aku teringat akan surat edaran yang dibagikan oleh Ariz. Disana tertulis setiap siswi pada bulan Ramadhan diwajibkan untuk menggunakan jilbab.
Hmm… Apa salahnya kalau aku hanya menggunakan saat bulan Ramadhan? Toh temanku juga ada yang menggunakannya hanya bulan Ramadhan saja. Ya, setahap-setahap saja boleh ya Rabb?, pikirku saat itu
Itulah sekilas lagi-lagi pemikiranku yang tidak serius. Ya, aku masih setengah-setengah hati untuk berjilbab. Belum ada keinginan teguh untuk berjilbab.
Sesampainya di rumah adalah waktu shalat Maghrib. Setelah aku shalat, aku mengambil jilbab kain dari kamar ibuku. Berbentuk kain yang berwarna putih. Bahannya cukup lemas sehingga lebih mudah untuk dibentuk jilbab. Tapi karena aku belum mengetahui bagaimana jilbab yang rapih itu, aku memakainya masih berantakan.
Saat aku mencobanya, ibuku melihat dari celah pintu kamar dan mengetuk pintu kamarku.
“Amanda? Sedang apa?” Ibuku melihatku sedang mencoba-coba di depan kaca. “Manda mau dijilbab?” Aku menengadah dan menatap mata bening ibuku.
“Nggak sih… Cuman lagi mencoba. Jelek ya kalau Manda dijilbab?” Aku melihat ibuku yang tersenyum bijak saat aku bertanya hal itu.
“Semua wanita itu cantik saat berjilbab kok, Manda.” Ibuku merangkul tubuhku dan mencium pelipisku. “Yang membedakan itu, niat dari hati kamu ini. Tulus apa nggak? Kalau niatnya tulus, kamu akan terlihat cantik seutuhnya, sampai hatimu pun akan cantik. Tapi kalau tidak niat, sudahlah lepas saja.”
“Kalau menurut ibu, Amanda sudah pantas gak dijilbab?”
“Hmm…” Ibuku terdiam. Jantungku berdetak keras. Ucapan ibu adalah ucapan yang selalu baik dan pastilah itu benar! “Pantas saja. Asal…” Nah ini nih. Sebuah alasan…, pikirku diam “Asalkan Amanda berniat di dalam diri Amanda bahwa ini adalah keputusan yang baik. Keputusan untuk berjilbab itu bukan main-main… Dari diri Manda udah niat ingin dijilbab atau tidak?”
Ibuku berjalan keluar dan meninggalkanku sendiri di kamar. Aku terdiam di kamar dan memikirkan banyak hal.
Pertama, bagaimana wajahku bila berjilbab? Aku kadang melihat banyak muslimah yang menjadi tidak cantik saat berjilbab. Atau bagaimanakah tanggapan orang sekitarku saat melihat diriku berjilbab?? Mereka pasti akan melihatku layaknya orang aneh. Bagaimana mungkin aku berjilbab tapi bersikap yang tidak mencerminkan muslimah yang selalu orang gambarkan suci dari segala dosa? Aku takut jilbabku mencoreng nama jilbab itu sendiri.
Tiba-tiba sebuah lagu teralun dari Gigi berjudul “Akhirnya” lewat radioku. Sekilas lagu itu mungkin biasa, namun entah mengapa saat mendengar lagu ini. Air mataku menetes.
Kusadari akhirnya
Kerapuhan imanku
Telah membawa jiwa dan ragaku
Ke dalam dunia yang tak tentu arah
Dalam bait pertamanya pun, hati ini tiba-tiba tersayat. Betul… Imanku sangat rapuh. Jiwa dan raga ini juga telah terbawa ke jalan yang bukan jalan-Mu. Selama ini… Kemanakah hati ini telah berlalu, ya Rabb… Mengapa hati ini selalu menutup dirinya dari-Mu, ya Rabb yang kucintai…
Oh Tuhan mohon ampun
Atas dosa dan dosa slama ini
Aku tak menjalankan perintah-Mu
Tak pedulikan nama-Mu
Tenggelam melupakan diri-Mu
Kugenggam jilbab itu erat-erat. Tak pernah kusangka… Jilbab adalah hal wajib yang diperintahkan Allah... Lalu mengapa ku tak menurut?? Mengapa hati ini tertutup pada perintah-Nya yang pasti akan selalu baik dan benar?? Kewajiban berjilbab tercantum di Al-Qur’an! Q.S Al-Ahzab ayat 59 dan Q.S. An-Nur ayat 31. Dan tiada keraguan pada Mushaf ini…
Oh Tuhan mohon ampun
Atas dosa dan dosa sempatkanlah
Aku bertaubat hidup di jalan-Mu
Tuk penuhi kewajibanku
Sebelum tutup usia kembali pada-Mu
Memenuhi kewajiban-Mu. Komitmen karena aku telah menjadi hamba Allah… Sehelai kain penuh airmata. Kain jilbab ini telah menjadi saksi dan komitmenku untuk seumur hidup menjadi hamba-Mu.
Kemudian, ibuku datang. Aku terburu-buru menghapus airmataku tapi tentu saja ibu menyadari bahwa aku menangis. Ia memelukku dan mencium pipiku.
“Ibu tahu. Amanda InsyaAllah akan istiqamah pada niatnya. Semoga Amanda setelah dijilbab…” Perkataan itu terpotong dan aku melihat mata ibuku berkaca-kaca. “Amanda akan menjadi anak yang shalihah dan muslimah sejati di surga nanti…”
Aku menunduk. Tetesan air mataku lagi-lagi membasahi jilbab kainku itu. Air mata ibu pun tak berhenti menetes. Aku tahu… Setiap bulir air mata itu adalah doa untukku yang selalu ia lantunkan pada tiap-tiap shalatnya.
Malam itu betul-betul malam yang sangat emosional bagiku. Inilah keputusan seumur hidupku. Pembuktian pada ucapan-ucapanku. Aku tidak ingin Allah murka karena aku mengatakan apa-apa yang tidak aku kerjakan (Q.S As-Saff ayat 3).
Saat masuk sekolah, semua orang cukup terkejut melihat penampilan baruku. Ada yang mengejekku, ada yang memujiku. Tiap ada sindiran yang tertuju padaku, aku berharap itu hanyalah godaan setan belaka, istighfar dan senyuman tetap kuberikan. Tanda bahwa aku akan selalu terus memegang keputusan ini.
Bagaimana dengan pujian? Aku tersenyum dan mengucapkan hamdalah berkali-kali karena niat yang baik ini telah menjadi kebahagiaan teman-temanku.
Rasa bangga kuyakin terukir dalam hati bapak dan ibuku. Keputusan ini tidak akan pernah kuakhiri. Satu langkah untuk mendekatkan pada diri-Nya telah kulaksanakan dengan hati mantap di jalan Allah ini.
Terimakasih pada orangtuaku atas pendidikannya yang membentuk diri saya sedemikian, juga teman-teman DKM Nurul Khomsah yang telah mengokohkan pondasi saya dalam niat berjilbab, juga Allah SWT., atas hidayah-Mu yang indah ini. Ternyata… Hidayah tidak datang dengan sendirinya. Tetapi sering-seringlah mencari hingga datang waktu yang tepat padamu.
Sampai saat ini, sehelai kain jilbab itu masih selalu berada di kepalaku dan menutupi auratku. Sindiran masih sering kurasa karena aku masih belum mampu mencerminkan muslimah sejati itu. Bahkan dalam diriku ini, aku masih merasa bersalah dengan sikap-sikapku yang buruk ini.
Tapi ada sebuah kata-kata yang sangat menyentuh hatiku…
“Sikap buruk adalah hal yang tidak baik, sedangkan jilbab ialah hal yang baik. Yang dihilangkan justru hal yang tidak baik, bukan hal yang baik itu.”
Nama : Amanda Tiara Averousi Kelas : X-D
Post a Comment