Aku adalah warna hidupku






Bismillahhirrahmannirrahim..
Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh
Sekiranya kali ini aku akan menulis sebuah postingan kecil sejak aku tidak menulis lagi beberapa bulan yang lalu. Maklum sebagai manusia punya kesibukan tersendiri yang sadar tidak sadar itu mengurangi waktu hidupnya. Hm. Pernahkan berpikir usia kita itu selalu bertambah, bertambah dan menua tapi tidak pernah menorehkan sejarah apapun di hidup kita?

Cita-cita seseorang ditentukan dari apa yg ia pikirkan dan ia lakukan saat ini. Bahkan di sebuah novel fiksi saga, terdapatlah seorang perempuan yg mampu melihat masa depan. Tapi kehebatannya itu subjektif. Mengapa? Karena manusia itu.. Satu keputusan mampu mengubah masa depan mereka. Maka dari itu, aku suka kehidupanku.

Hidupku itu mungkin rumit bila aku harus menceritakannya saat ini juga. Saat pertama kali mengerti bahwa masalah itu lumrah saat menapaki ke kedewasaan, saat pertama kalinya sadar bahwa aku harus menentukan keputusan terbaikku. Tapi tetap saja, toh aku masih remaja, suka mencari tahu dan ingin tahu.

Kalau dulu kita masih kanvas kosong atau bisa diartikan saat masih kecil, kita tidak mampu menorehkan warna tersendiri. Harus ada yang mewarnai kanvas itu dengan baik yaitu keluarga. Menapaki kedewasaan, kanvas yang sudah terwarnai sedikit oleh keluarga kita, semakin berwarna dengan tantangan hidup yg makin besar. Tapi bukan berarti lingkunganlah yang berhak mewarnai kanvas itu! Kitalah yang mewarnainya, pelaku hidup yg tak abadi ini.

Aku berhak menentukan warnaku sesukaku tapi cocok dengan warna yg telah ada dahulu, warna yg telah orangtuaku torehkan di kanvas kosong itu. Namun terkadang siapa sih yang tidak ceroboh dalam mewarnai kanvas itu? Ah.. Manusia itu tak ada yang sempurna. Warnanya menjadi kacau sehingga tidak mampu terkendali. Akhirnya? Lukisan kehidupan kita itu bisa menjadi berantakan.

Aku tak mungkin harus membuang lukisan kehidupan itu. Sudah cukup banyak dasar di dalamnya. Lalu bagaimana caranya? Aku berpikir cukup jauh hingga menyentuh relung hatiku. Mungkin aku tak bisa menghapusnya warna-warna permanen itu, tapi apa salahnya kalau aku mewarnai ulang kanvasku itu?

Tak perlu menyesali waktu yang berlalu karena justru kita bisa luput pada waktu yang tersedia lebih banyak untuk membetulkannya. Pengalaman adalah guru yang baik kan? Satu keputusan manusia itu mampu mengubah masa depannya.

Akhirnya aku mampu bangkit dengan baik sambil berpegang teguh pada keyakinan bahwa Allah azza wa Jalla selalu memberi takdir yg terbaik. Memang manusia hanya bisa merencanakan dan Allah yang menentukan. Tapi apa salahnya berusaha dan optimis kan? Toh, Allah mencintai makhluk-Nya yang optimis..

Tetap semangat dan optimis! Warna hidupku akan terus tertoreh. Karena aku adalah warna hidupku.. :)



4 Responses
  1. admin Says:

    wow... sangat penuh dengan kata kata bijak. sastra sehingga membuat agak termenung membacanya (lebay mode on)
    btw makasih ya udah ikut berpartisipasi dalam pengumpulan 1000 blog ini. klo bisa ajak juga teman teman yang laen walupun deadlineya ampe hari rabu besok..
    trus jangan lupa datang ke acara starityvaganza yang akan di adakan pada hari minggunya di AULA Barat ITB
    contact person : 085722531357 (dani)


  2. karisma-itb Says:

    makasih udah daftar ya...
    mau datang ke kumpul blogger pelajar kan??
    ajak juga temen2nya ya.. ;)


  3. @ admin : haha.. masih amatiran kang/teh. ntarlah kalo gedean dikit dan udah masuk ITB (amin)bisa bagusan dikit lah..


  4. @ karisma itb : InsyaAllah bisa dateng.. ^^